Kehilangan Diri dalam Upaya Memiliki

Ketika orang yang tidak percaya diri sedang jatuh cinta,

ia harus bersiap untuk kehilangan dirinya…

 Color palette: Terra Roza | Nábytek a doplňky vybrané stylistkami Westwing

source: pinterest

 

Baru-baru ini sepertinya saya mulai merasa kagum pada seorang teman. Dia adalah orang yang berprinsip, tekun, cerdas, tapi juga sangat menyenangkan. Pemikirannya begitu tajam namun bersahaja. Seringkali kami memiliki selera serupa, hingga saya tak elak membayangkan obrolan panjang dan jam-jam yang terlampaui tanpa terasa, berlatar sebuah kedai hangat dengan dia yang duduk di hadapan.

 Singkat cerita, perlahan saya menaruh sepotong demi sepotong hati saya untuknya. Sampai detik ini, perasaan itu saya simpan rapat-rapat seolah hal tersebut akan menyebabkan bencana jika sedikit saja terbongkar. Ragu Kembali merayap dan memakan rasa percaya diri yang memang tipis sejak semula. Rasa rendah diri Kembali hadir seperti yang sudah-sudah. Selalu begitu. Lama-lama saya makin capek sama pikiran saya sendiri. Merasa nggak pantas untuk siapa saja, merasa jadi makhluk hasil persilangan keledai dengan itik buruk rupa. Sejelek itu saya menilai diri tiap kali saya mulai menyukai seseorang. Peduli setan dengan self love yang tergaung di berbagai linimasa akun media sosial, nyatanya yang saya rasakan tetap begitu adanya. Masih cupu, nggak ada perkembangan.

Kemungkinan dan pikiran buruk pun berdatangan. Saya selalu merasa kecil tiap membayangkan tentang “terjadinya” kami berdua. Dia begitu cemerlang, aktif di berbagai kegiatan, suka belajar, dan sangat berbudaya. Serius saya ini seperti nggak ada apa-apanya. Dengan segala pemikiran itu, saya bahkan jadi enggan untuk sekadar mengumpamakan diri sebagai satu titik di lembaran buku kehidupannya. Satu titik itu.. terlalu banyak dan berarti. Apa yang bisa saya andalkan buat bisa menyamai level sebuah titik untuk saat ini?

Pun demikian, keinginan saya untuk bersamanya tetap ada. Sekecil dan setersudut apapun di batas rapuh rasa ragu dan keras kepala. Setelah itu, maka yang akan saya lakukan adalah memantaunya. Mengagumi dari kejauhan, mengupas sedikit informasi tentang dia, sambil sesekali mengulas senyum segaris jika ada sesuatu darinya yang membuat perasaan saya menghangat. Dalam fase ini, saya tahu persis apa yang selanjutnya terjadi. Sebanding dengan intensitas dan durasi stalking yang berjalan, maka selera saya perlahan akan semakin mendekati seleranya, kebiasaan saya perlahan berubah, dan saya bahkan mencoba untuk mengubah sikap agar mirip seperti perempuan yang pernah dia suka. Parah, saya selalu kehilangan diri saya dalam perjalanan yang bahkan belum dimulai.

Perasaan menyenangkan yang pada mulanya hadir dan mengawali kegilaan tadi akan hilang perlahan, tergantikan oleh ambisi dan fantasi buta atas terjadinya hubungan spesial diantara kami. Bukan lagi kekaguman dan rasa hangat yang mendasari keinginan saya, melainkan kepuasan diri akan validasi jika hubungan itu benar-benar terjadi. Entah berapa kali saya pernah menyukai seseorang, siklus ini hampir selalu berulang. Saya hanyut bersama ketulusan dan percaya diri; bualan kosong yang sejak awal tidak saya miliki.  

 


Komentar

Postingan Populer