"Lemantun" || Realitas dalam Tiga Generasi


Adalah sebuah film pendek yang beberapa kali muncul di layar beranda youtube-ku. Sekadar penasaran dengan judulnya, akhirnya aku resmi menjadi penontonnya yang ke-137 ribu. Kalau kalian pengin tau, bisa tonton di sini ya;)

Nuansa Jawa kental memenuhi keseluruhan unsur film "Lemantun". Kukira ini merupakan film pendek yang sarat pesan tersirat dan akan membuatku kewalahan mengupas maknanya satu persatu, mengingat beberapa komentar dan ulasan singkat yang sebagian besar mengungkapkan kalimat dengan berbagai kiasan. Eh, ternyata baru tiba di menit-menit awal saja aku sudah melebur ke dalam ceritanya.

Memang belum terlalu dalam aku mencari makna dari tiap adegan, namun kusadari, "Lemantun" adalah rangkuman dari refleksi yang terpajang di hadapanku sehari-hari. Begitu dekat aku mengenal sosok Tri dan anggota keluarganya yang lain. Mereka adalah orang-orang yang ikut menjadi penentu muasalku. Relasi erat antara kisah hidup Tri bersaudara dengan cerita orang-orang yang kukenal di dunia nyata membuatku sedikit mengerti dan menerima, bahwa dalam keluarga besar, kesenjangan yang membuahkan segala sikap meremehkan adalah hal yang bisa terjadi dengan mudahnya.

Sosok Tri yang kukenal di dunia nyata juga mengalami perlakuan serupa, sampai ke anak cucunya. Aku akan menulis sebutan mereka dengan huruf miring agar mudah membedakan tokoh cerita dengan yang kumaksud di kehidupan nyata.

Para saudara Tri selalu berpikir bahwa Tri sekeluarga tidak cukup pintar untuk menjalani peradaban yang setara dengan mereka. Kurasa anggapan ini muncul karena kondisi finansial dan status sosial yang cukup berjarak. Tri menjalani nasib seperti ini mungkin karena dahulu kesetaraan antara laki-laki dan perempuan belum terlalu gencar dilantangkan. Jadilah, dia merasa harus mengambil peran lebih dalam kewajiban domestik dan melepas haknya untuk mengejar hal-hal hebat di luar. Jujur perkara ini agak kusayangkan, karena sosok Tri adalah orang yang cerdas dan matang pemikirannya. Seorang yang tangguh namun terlalu pengalah dan selalu mengelus ego saudara-saudaranya. Andai aku berani, mungkin akan kumarahi Tri ini. Tidak semestinya dia berpangku tangan terhadap perlakuan yang tak patut ia terima. Bukan pula kewajibannya untuk selalu mengalah mentang-mentang ia lebih muda dan dianggap inferior oleh saudaranya. Masalah tidak akan selesai hanya dengan sikap pura-pura bodoh dan mengiyakan asumsi mereka. Yah.. Tapi mau bagaimana. Keindahan pesisir seringkali membuat orang enggan bersusah payah menyelami lautan, 'kan?

Jika kalian sudah menonton filmnya, maka kalian akan mengetahui bentuk lemantun pemberian sang ibu yang didapatkan Tri dan para saudaranya. Bolehlah kuumpamakan lemantun itu adalah wujud kasat mata dari doa dan nasihat sang ibu. Seakan begitulah yang terlihat tentang bagaimana cara masing-masing anak menerimanya. Dari Tri dan lemantunnya aku coba memahami: yang terburuk bentuknya, belum tentu menjadi paling tidak berguna. Yang paling disepelekan bisa jadi yang termampu dalam merawat nasihat dengan lurus. Bahwa yang paling remeh sekalipun, tetap memiliki kesempatan untuk memberi makna kepada sesama.

Komentar

Postingan Populer