Cerita Fabel

Penyesalan Cici
          Dikisahkan di sebuah hutan rimba yang luas, hiduplah seekor kelinci bernama Cici. Ia bersahabat karib dengan seekor kura-kura yang penyabar dan bijaksana, bernama Kara. Mereka selalu bersama-sama dimana saja dan kapan saja. Meskipun Cici galak dan tidak sabaran, namun Kara selalu bisa memahami sahabatnya. Sepertinya, hal itulah yang membuat mereka selalu kompak.
            Pada suatu hari, Cici dan Kara berjalan-jalan di hutan. Mereka menemukan sebuah lubang, yang ternyata adalah rumah seekor landak bernama Lulu. Saat itu, Lulu berada dalam kesulitan karena tanah di hutan itu melunak sehingga rumahnya terancam hancur. Tidak ada seekor binatangpun yang membantunya.  Cici dan Kara yang iba lalu membantu Lulu memperbaiki rumahnya agar lebih kuat. Semenjak itu, akhirnya mereka bertiga bersahabat.
            Semakin lama, Cici semakin dekat dengan Lulu dan Kara justru terlupakan. Namun Kara tetap bersabar dan perhatian. Cici selalu menurut ketika Lulu menyuruhnya ini dan itu. Ia berfikir, tak apalah membantu teman. Kita ‘kan memang saling membutuhkan dan harus saling membantu. Tanpa Cici sadari, ternyata Lulu samasekali tidak memiliki ketulusan dalam berteman dengan Cici maupun Kara. Ia hanya ingin memanfaatkan kebaikan hati mereka. Kara yang menyadari hal itu, telah mengingatkan Cici untuk tidak dekat-dekat dengan Lulu lagi. Namun, Cici tak mengacuhkan nasihat Kara. Ia masih tetap pada pendiriannya.
            Suatu pagi mereka bertiga berjalan-jalan di bukit tepi hutan. Tanpa mereka sadari, ternyata seekor serigala telah mengintai mereka sedari tadi. Ketika tiba waktu yang tepat, serigala itu menerkam mereka bertiga dari depan. “Auuu, bersiaplah kalian menjadi santapanku pagi ini,” ujar serigala dengan seramnya. Cici, Kara, dan Lulu pucat pasi. Mereka sangat ketakutan. Kemudian, Lulu yang menemukan celah untuk melarikan diri tiba-tiba lari terbirit-birit tanpa mempedulikan kedua temannya yang terancam bahaya.
Cici dan Kara semakin pias. Sang serigala segera mempergunakan kesempatan itu untuk memangsa keduanya. Namun, Kara segera menghalau serangan sang serigala ketika serigala tersebut nyaris menggigit telinga Cici. Kaki dan wajah Kara terluka. Namun ia tidak mempedulikannya. Ia justru semakin berani menghalau serangan sang serigala. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Pagi itu, hidup Kara berakhir menjadi santapan serigala.

Cici yang melihat hal itu semakin ketakutan dan berusaha berlari sekencang-kencangnya. Ia berhasil selamat dari maut berkat pengorbanan sahabatnya, Kara. Namun, dalam hatinya terlukis suatu penyesalan, karena akhir-akhir ini ia selalu tak mengacuhkan keberadaan Kara dan terkesan lebih suka dengan Lulu. Bahkan, ia tidak mempedulikan perkataan Kara bahwa Lulu tidak tulus dalam berteman dengan mereka. Benarlah apa kata Kara. Pada akhirnya pun, hanya Kara yang rela mengorbankan nyawanya demi keselamatan Cici. Dalam hati Cici berjanji akan selalu mengingat kebaikan Kara, sahabat terbaik penyelamat hidupnya.  

Komentar

Postingan Populer